Jumat, 23 Oktober 2015

Kucing Liar Ara


sumber gambar di sini


“Meow...meow” meongan kucing terdengar lirih di pagi hari sebelum Ara berangkat sekolah.  Tak ada yang memelihara kucing di sekitar kompleks rumah Ara. Ara pun jarang melihat kucing liar di sekitar rumahnya. Ia meraih sepatu sekolahnya sembari mencari-cari sumber suara itu. Ia menajamkan pendengarannya, namun suara kucing itu tidak terdengar lagi.
“Meow...meow..” suara itu kembali terdengar ketika Ara membuka pintu pagar sepulang sekolah. Kali ini bertekad untuk menemukan di mana sumber suara itu berasal. “Meow...meow...” meongan kucing itu terdengar sedih. Ara mencari-cari di taman bunga milik nenek.  Di antara pot-pot besar pohon salam. Di sana di sela-sela pot yang besar dan cukup tersembunyi, seekor kucing belang berbaring. Ia seketika berdiri ketika Ara berjalan mendekat.  “Meeeooowww...” teriaknya ketakutan. Dengan terpincang-pincang ia berusaha melindungi dirinya.
“Jangan takut kucing kecil” kata Ara melangkah mundur. Ia melihat kaki belakang si kucing terluka. Karena itulah ia pincang. Ara bergegas masuk ke dalam rumah. “Mama, seekor kucing pincang berbaring di taman bunga nenek. Bolehkah saya memberinya makan?”, tanya Ara. “Tentu. Ada sisa tulang ikan di dapur. Kamu bisa menambahkan nasi dan sedikit kuah sayur”, kata Mama.
Ketika ia telah menyiapkan makanan buat sang kucing, dengan perlahan ia mendekatinya. Kali ini kucing belang itu tidak lagi berdiri, namun tetap waspada. Ara meletakkan piring berisi makanan di dekat si kucing kemudian berdiri menjauh.
Si kucing mengendus dan kemudian memakan dengan lahap. Tidak lupa Ara memberi semangkuk air untuk minumnya. “Nanti sore aku kasi makan lagi ya. Cepat sembuh kucing”, kata Ara. Mama memanggil tante Ika, teman mama yang juga dokter hewan. Kucing Ara diperiksa oleh tante Ika. Kakinya patah. Tante Ika membalutnya dengan kain dan memberikannya obat.
“Lukanya tidak parah sebentar lagi sembuh”, kata tante Ika. “Mama, kalo kucingnya sudah sembuh, dia boleh kan Ara pelihara?”, pinta Ara. “Boleh. Asal kamu rajin memberinya makan dan merawatnya. Janji?”, tanya Mama sambil menyodorkan jari kelingkingnya.”Oke”, balas Ara mengaitkan kelingkingnya di kelingking Mama.

Bogor, 22 September 2015

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar